Kisah Penghuni Masjid

26 01 2009

TAK JADI MENCURI TERONG, LALU ALLAH KARUNIAKAN UNTUKNYA SEORANG ISTRI

Syaikh Ali at Thantawi bercerita bahwa Di Damaskus, ada sebuah masjid besar, namanya masjid Jami’ At Taubah. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim al Musuthi. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam bekhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid tersebut. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak punya makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekalipun agar tetap bertahan hidup.

Kebetulan masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah lainnya. Hal ini memungkinkan seseorang pindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan berjalan di atas rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atap masjid dan dari situ dia pindah ke rumah sebelah. Di situ dia melihat seorang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah di sebelahnya lagi. Keadaannya sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seoalah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya. Maka dia pun melompat dari atap dan masuk ke rumah tersebut..

Dalam sekejap dia sudah masuk ke dapur lalu mengangkat panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan telah masak. Lalu diambilnya, karena rasa lapar yang begitu mendera dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata “A ‘udzu billah!, aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di masjid, pantaskah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang di dalamnya?”. Dia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya ke tempatnya semula. Akhirnya dia pulang ke masjid tempat tinggalnya.

Sesampainya di masjid pemuda tadi duduk dan mendengarkan syaikh yang saat itu tengah mengajar. Karena terlalu lapar dia hampir tidak bisa memahami apa yang dia dengar. Ketika majlis selesai dan orang-orang sudah pulang datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab, kemudian perempuan itu bicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syaikh itu bertanya “Apakah kamu sudah menikah?” dijawab “belum”. Syaikh itu bertanya lagi “apakah kamu mau nikah?”. Pemuda itu diam.

Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara,”ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?”. Syaikh itu menjawab, “Wanita in datang membawa kabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Disini, bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa, kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin”, kata Syaikh. Sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, “Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kamu menika dengannya?“. Pemuda itu menjawab, “ya”. Kemudian syaikh bertanya kepada wanita itu, “apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?”. Ia menjawab, “ya”.

Maka syaikh itu memanggil pamannya dan mendatangkan dua saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh berkata, “peganglah tangan istrimu!”. Dipeganglah tangan istrinya dan sang istri membawanya ke ruamahnya. Setelah keduanya masuk ke rumah, sang istri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik.

Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi ia masuki. “Sang istri bertanya, kau ingin makan?”. “ya”, jawab sang pemuda. Lalu dia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya ia berkata, “heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?”. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Istrinya berkomentar, “ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan kepadamu rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meningglkan sesuatu ikhlas karena Allaah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik dari itu”.

(diambil dari buku kumpulan kisa nyata, karangan syaikh Ibrohim bin Abdullah Al Hazmi)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: